Universitas Gunadarma
Jumat, 28 Mei 2010
Bahaya Rokok bagi Si Pasif...
Hal itu disampaikan dokter spesialis jantung, Aulia Sani, dalam kampanye "Break Free, Semangat Bebaskan Diri dari Jeratan Adiksi Nikotin" di Jakarta, Rabu (26/5/2010).
Dikatakan Aulia, perokok pasif yang rawan terserang kanker paru dan jantung koroner adalah perokok pasif dewasa. Sementara anak-anak akan lebih rentan terserang bronkitis atau infeksi saluran pernapasan lainnya.
"Perokok pasif paling banyak kena penyakit lain, bronkitis, batuk, pilek, anak-anak biasanya. Kalau dewasa nanti kena koroner, hipertensi, dan yang kena semakin muda karena bapak-ibunya perokok," ujar dr Aulia.
Selain itu, dr Aulia menyampaikan bahwa dewasa ini terjadi perubahan tren di mana wanita muda banyak terserang jantung koroner dibanding pria. Hal tersebut dikarenakan kebiasaan merokok pada wanita semakin meningkat. "Dan lingkungan mereka juga banyak perokoknya," tambah dr Aulia.
Bahaya merokok dan asap rokok juga mengancam ibu hamil. Berdasarkan materi yang disampaikan dr Aulia, ibu hamil berisiko mengalami proses kelahiran yang bermasalah, seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, lahir mati, atau cacat lahir. "Karena itu, yang diedukasi bukan cuma pasien berhenti merokok, tapi juga masyarakat," kata dr Aulia.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar menghindari orang merokok sejak dini. "Tidak ada cara, cuma menghindari orang merokok, dan dibuat kawasan bebas rokok," imbuhnya.
Sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/05/26/16272227/Bahaya.Rokok.bagi.Si.Pasif...
Rabu, 26 Mei 2010
Peta Nusantara Ada sejak Zaman Majapahit
— Sejarah mencatat bahwa kegiatan survei dan pemetaan di Nusantara dilakukan sejak delapan abad lalu. Salah satu buktinya, peta paling awal tentang Nusantara sudah dibuat oleh bangsa Nusantara sendiri pada masa Majapahit.
"Itu menurut CJ Zandvliet dari Belanda dalam jurnal Holland Horizon tahun 1994," kata Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas pada peluncuran buku Survei dan Pemetaan Nusantara: 40 Tahun Bakosurtanal di Jakarta, Kamis (20/5/2010).
"Peta administratif pernah dibuat pada masa Raden Wijaya memerintah Kerajaan Majapahit, dan diserahkan kepada tentara Yuan asal China, yang menaklukkan kerajaan tersebut pada tahun 1292," ujarnya.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa peta pertama tentang Indonesia adalah peta navigasi yang dibuat pada abad ke-15 ketika Laksamana Cheng Ho dari China melakukan pelayaran di wilayah negeri ini.
Pemetaan Indonesia yang lebih maju, ujarnya, dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonial yang awalnya datang sebagai pedagang dari mancanegara untuk mencari rempah-rempah. Pada penjajahan Belanda selama 3,5 abad itulah Belanda melakukan survei dan pemetaan ke berbagai wilayah, dan menginventarisasi kekayaan hayati Nusantara sehingga muncul berbagai peta wilayah Nusantara yang karena keterbatasan teknologi memiliki akurasi rendah.
Empat abad kemudian, ketika Indonesia telah lahir, pemetaan secara lebih detail belum ada. "Bahkan, berapa jumlah pulau di Indonesia belum juga diketahui dan baru dirintis pertama kali oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melibatkan tokoh Bakosurtanal," ujarnya.
"Sejak beberapa tahun terakhir, Bakosurtanal tengah merintis pembuatan peta berskala besar dengan akurasi tinggi yang dimungkinkan oleh teknologi yang semakin canggih, dari mulai teknologi penginderaan jauh, teknologi digital, teknologi GPS, dan teknik pemrosesan data dengan sistem komputer," katanya.
Sementara itu, pakar Sejarah LIPI, Dr Asvi Warman Adam, menegaskan pentingnya peta, yang disebutkannya sebagai satu dari tiga faktor yang membentuk suatu bangsa, selain sensus dan museum.
"Peta merupakan tulang punggung bagi pembentukan suatu negara dan identifikasi suatu bangsa," katanya.
Adapun sosiolog Imam Prasodjo di tempat yang sama mengeluhkan tersebarnya berbagai peta di berbagai institusi, seperti peta hutan gundul di Kementerian Kehutanan, peta tata ruang kota di Badan Pertanahan Nasional (BPN), peta fertilitas di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
"Negara kita terlalu senang membuat pengotak-ngotakan. Seharusnya, Bakosurtanal mengintegrasikan semua peta di berbagai institusi ini, dan menjadikan semua pemetaan Nusantara sebagai data digital yang bisa diakses semua orang," katanya.
Buku Survei dan Pemetaan Nusantara yang tebal dan hanya dicetak 1.000 eksemplar tersebut selain berbicara mengenai peran survei dan pemetaan juga membahas peran Bakosurtanal dalam melakukan survei dan pemetaan nasional.
sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/05/20/1701401/Peta.Nusantara.Ada.sejak.Zaman.Majapahit
Kerangka Badak Ditemukan di Ujung Kulon
— Kerangka tulang badak ditemukan oleh Tim Inventarisasi Badak 2010 di Blok Nyiur, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kerangka badak tersebut kemudian dievakuasi dan selanjutnya dibawa ke Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon.
Penuturan Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Agus Priambudi di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Rabu (26/5/2010), hingga saat ini penyebab kematian badak tersebut masih diselidiki. "Namun, dugaan sementara bukan karena perburuan. Sebab, saat ditemukan, bagian terpenting seperti cula dan taring masih lengkap," kata Agus.
Data mengenai kerangka saat ditemukan, antara lain, tulang belulang masih utuh dan pada cula serta kuku dikerumuni belatung. Kondisi gigi seri dan geraham masih tajam. Panjang tulang dari ujung kepala hingga pangkal ekor adalah 270 sentimeter dan panjang ekor 55 sentimeter.
sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/05/26/14251562/Kerangka.Badak.Ditemukan.di.Ujung.Kulon
Kerajaan Kupu-kupu di Bantimurung
— Keanekaragaman jenis dan populasi kupu-kupu yang melimpah membuat naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menjuluki Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebagai kerajaan kupu-kupu.
Dalam buku Indonesian Archipelago (2009), Alfred menggambarkan keindahan ribuan kupu-kupu terbang membentuk awan dan kawanan kupu-kupu jenis Graphium androcles berwarna putih mengilap menutupi hamparan pasir di pinggir Sungai Bantimurung. Dengan mayoritas wilayah didominasi kawasan karst, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TNBB) pun menjadi favorit kupu-kupu yang menyenangi kondisi lembab.
Ahmad Effendi (28), warga sekitar yang kini menjadi penjaga Museum Kupu-kupu TNBB, mengemukakan, fenomena itu tak pernah lagi terjadi dalam 10 tahun terakhir. Pengembangan tempat wisata alam Bantimurung pada tahun 2004 mengurangi lahan yang selama ini digunakan kupu-kupu untuk berkembang biak.
Pohon jeruk, sirih hutan, dan srikaya, serta tanaman bunga sepatu dan bunga asoka berganti dengan bangunan beton untuk fasilitas rekreasi. Kondisi itu memicu penyusutan ragam kupu-kupu di Bantimurung. "Banyak kupu-kupu yang bermigrasi ke tempat lain mencari tempat untuk bertelur. Kupu-kupu hanya akan bertelur di tempat yang menyediakan makanan untuk ulat," tuturnya di Makassar, Minggu (16/5/2010).
Pengembangan tempat wisata alam seluas 18 hektar itu pun mengundang animo masyarakat. Kunjungan wisatawan yang terus meningkat turut membatasi ruang gerak kupu-kupu. "Kondisi ini mengganggu kenyamanan kupu-kupu yang senang dengan kelembaban di pinggir sungai," kata Ahmad.
Ragam kupu-kupu pun terus menyusut. Dari 107 jenis hasil penelitian tahun 1990-an, kini tinggal 89 jenis pada penelitian Balai TNBB bulan lalu.
Guna mencegah kondisi yang kian memprihatinkan, Balai TNBB menggalakkan penanaman pohon dan tanaman bunga yang menjadi tempat bertelur kupu-kupu. Menurut koordinator pemanfaatan dan keanekaragaman hayati Balai TNBB, Putri Cendrawasih, ratusan pohon jeruk, srikaya, dan sirih hutan telah ditanam di sekitar Danau Kasikebo yang terdapat di dalam tempat wisata alam Bantimurung.
Sementara areal pinggiran sungai dan daerah sekitar museum banyak ditanami tanaman kembang sepatu dan bunga asoka. Pemulihan habitat menjadi faktor terpenting untuk menjaga kelestarian kupu-kupu.
Pakan
"Penyediaan pakan untuk ulat menjadi daya tarik terbesar kupu-kupu. Jika penanaman konsisten dilakukan, berbagai fenomena yang terjadi pada zaman dahulu bisa saja terulang kembali," kata Putri.
Upaya lain yang dilakukan Balai TNBB adalah melalui kandang penangkaran. Saat ini Balai TNBB tengah mengembangbiakkan enam jenis kupu-kupu berhabitat di Bantimurung dan telah diketahui jenis pakan ulatnya. Keenam jenis itu adalah Troides hypolithus, Troides helena, Troides haliphron, Papilio ascalapus, Pliopta polyphontes, dan Chetosia myrina.
Kupu-kupu ditangkarkan di kandang berukuran 6 meter x 8 meter yang menyediakan beberapa tempat pakan ulat, seperti pohon jeruk, srikaya, dan bunga asoka. Penjaga tempat penangkaran, Chaeruddin, menyebutkan, ulat dibiarkan seminggu sebelum dimasukkan ke tempat metamorfosis. Ulat ditaruh di toples plastik dan diberi makan hingga menjadi kepompong.
"Setelah dua minggu, kepompong akhirnya menjadi kupu-kupu. Sebagian kami lepas ke alam bebas, sedangkan sisanya diawetkan untuk koleksi di museum," ungkap Chaeruddin.
Sumbangan ini sejalan dengan rencana memperbarui koleksi museum kupu-kupu. Dari 166 jenis kupu-kupu, hanya sekitar 70 jenis yang masih bagus.
Beberapa koleksi yang rusak merupakan jenis kupu-kupu yang dilindungi dan cukup sulit didapatkan kembali karena habitatnya di Papua dan Pulau Seram, Maluku, seperti Ornithoptera goliath procus dan Ornithoptera chimaera. Kerusakan dipicu usia pengawetan lebih dari lima tahun dan kondisi museum yang terlalu lembab.
"Dalam waktu dekat kami berencana memperbarui koleksi museum dan menambah fasilitas pengukur kelembaban agar koleksi kupu-kupu bisa lebih awet," kata Ahmad. (RIZ/NIT)
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/05/26/09442451/Kerajaan.Kupu.kupu.di.Bantimurung
Lapan Siapkan Lokasi di Pulau Enggano
JAKARTA, KOMPAS.com - Dengan mempertimbangkan faktor keamanan saat peluncuran roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan memindahkan tempat peluncuran wahana antariksa tersebut ke Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Untuk tujuan itu telah ada persetujuan dari pemerintah daerah setempat.
Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun hari Selasa (25/5/2010) mengatakan, pemindahan itu juga dilatarbelakangi kondisi sekitar lokasi peluncuran yang lama yang berada di daerah Pamengpeuk, Provinsi Jawa Barat. Pamengpeuk kini telah padat menjadi daerah permukiman.
”Pemindahan itu berkaitan dengan rencana Lapan untuk meluncurkan satelit yang berukuran lebih besar, yang memerlukan zona aman atau bebas yang lebih luas,” kata Adi.
Perairan bebas
Pulau Enggano yang terletak di selatan perairan Provinsi Bengkulu relatif lebih aman karena di arah selatan menghadap perairan bebas. Namun, Adi juga melihat ada faktor yang kurang menguntungkan di pulau itu, yaitu aktivitas kegempaan di pulau kecil itu tergolong tinggi.
Karena itu, peluncuran roket akan menggunakan kendaraan peluncur roket atau satelit (satellite launch vehicle/SLV).
”Pembuatan roket akan dilakukan di Pusat Pembuatan Roket di Pulau Jawa,” kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan Bambang Tedjasukmana. Untuk transportasi SLV dan roket itu Lapan akan bekerja sama dengan mitra terkait yang memiliki sarana kapal memadai.
Adi mengharapkan, lokasi peluncuran roket dari pulau tersebut sudah dapat terlaksana tahun depan. Rencananya, akan diluncurkan roket eksperimen berdiameter 550 mm. Akhir tahun ini direncanakan RX-550 akan menjalani uji statik.
Untuk mengarah pada peluncuran roket berkapasitas menengah itu, lanjut Bambang, akan dilakukan peremajaan prasarana yang ada, antara lain, yaitu mesin pembuat bahan bakar roket. Selama ini yang dilakukan hanya sebatas memodifikasi peralatan yang telah usang.
Menurut Adi, proses pembuatan bahan bakar roket atau propelan merupakan kunci yang menentukan unjuk kerja roket ketika diluncurkan, terutama terhadap daya dorongnya.
Terkait dengan peluncuran roket tersebut, lanjut Adi, Lapan mengalokasikan sebagian besar dana untuk pembangunan fasilitas peroketan dan sisanya untuk mempersiapkan peluncuran satelit kembar Lapan A-2 dan Lapan A-3 yang menggunakan roket Indian Space Research Organization (ISRO) dari India. Peluncuran akan dilakukan tahun depan. (YUN)
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/05/26/09203925/Lapan.Siapkan.Lokasi.di.Pulau.Enggano
Senin, 24 Mei 2010
Dugaan Meteorit di Bima Tidak Terbukti
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan, Selasa (18/5/2010), menyimpulkan, dugaan jatuhnya meteorit di Pegunungan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada 3 Mei 2010 lalu tidak terbukti.
Petunjuk-petunjuk di lokasi menunjukkan, suara ledakan keras, cahaya terang, serta lubang tanah disertai pelelehan batuan itu lebih kuat disebabkan oleh terputusnya kabel listrik bertegangan tinggi. Kabel yang masih mengalirkan arus listrik tegangan tinggi itu terputus dan bergerak liar mengenai batuan basah.
”Ibarat las listrik (arc welding), lompatan arus listrik itu menyebabkan cahaya sangat terang dan suhunya mencapai ribuan derajat celsius,” kata peneliti senior pada Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan, Thomas Djamaluddin.
Sejak hari Minggu, tim peneliti Lapan menganalisis kembali lokasi yang diduga menjadi tempat jatuhnya meteorit. Sebelumnya, ditemukan sampel batuan beku dari lelehan silika yang mengindikasikan kejanggalan.
Menurut Djamaluddin, silika memiliki titik leleh 1.600 derajat celsius. Belum ada literatur yang menyebutkan bahwa meteorit dalam ukuran relatif kecil bisa melelehkan silika pada suhu 1.600 derajat celsius. ”Meteorit yang masuk ke atmosfer Bumi juga mengalami pendinginan sehingga tidak akan mampu melelehkan silika dengan suhu 1.600 derajat celsius,” ujarnya.
Satu titik
Ditengarai lubang tanah berdiameter sekitar 50 sentimeter dengan kedalaman satu sampai dua meter menjadi lokasi jatuhnya meteorit. Menurut Djamaluddin, lubang tanah ini dimungkinkan terjadi akibat konsentrasi pemanasan pada satu titik setelah kabel yang menjadi seperti las listrik itu berhenti bergerak liar.
”Berdasarkan keterangan dari petugas PLN, kabel yang terputus itu kemudian habis terbakar sampai lima meter,” kata Djamaluddin.
Petunjuk lain diperoleh dari bekas sengatan-sengatan suhu tinggi pada bebatuan di sekitar lokasi. Alur-alur hitam pada bebatuan di beberapa tempat itu menunjukkan bekas goresan paparan panas sangat tinggi dari kabel yang bergerak liar.
”Pada saat terhenti dan memanasi satu titik, suhunya mampu melelehkan silika yang terdapat pada batuan kaca,” kata Djamaluddin.
Titik leleh tembaga itu lebih rendah dari silika, yaitu 1.080 derajat celsius. Namun, akumulasi panasnya mampu melelehkan silika.
Secara terpisah, Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Program Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Teguh Rahardjo, ketika dihubungi kemarin petang, mengatakan, fenomena yang terjadi di Bima masih diasumsikan sebagai dampak dari meteorit jatuh.
”Kami masih memiliki asumsi meteorit jatuh di Bima. Kami belum menerima laporan penelitian yang lebih lanjut oleh Lapan,” kata Teguh. (NAW)
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/05/19/14110731/Dugaan.Meteorit.di.Bima.Tidak.Terbukti
